Jiwa pengayom keluarga cirinya


 ILMU CORO. Memiliki keluarga yang harmonis, tenang, adem dan tenteram di dunia dan akhirat adalah impian semua atau sebagian besar keluarga. Dan untuk mendapatkan itu semua tidaklah mudah dan gampang terlebih yang terjadi pada sekarang ini era modern, dengan berbagai macam peradaban yang makin maju, ilmu pengetahuan, konsep berpikir dan tekhnologi yang menciptakan maensite hidup yang menyesuaikan jaman. Dari adanya maensite hidup orang modern yang semua di nilai dengan materi atau dapat dilihat sehingga masing masing orang berlomba lomba untuk menjadi yang terbaik, terlihat no satu, tidak mau kalah semua ingin menjadi pemimpin dari lainya. Keadaan seperti ini hingga merambah dalam maensite atau konsep berpikir di dalam keluarga. Untuk di dalam keluarga semua pihak ingin menjadi pemimpin, ingin mengatur dan itu tidak hanya oleh kaum Adam atau laki laki sekarang para kaum hawa pun ingin memimpin tidak mau di pimpin di tambah lagi adanya emansipasi wanita yaitu persamaan derajat dengan laki laki. Sehingga dari keadaan atau kondisi itu yang terlihat banyak keluarga yang jauh dari ayem, adem bahkan jauh dari harmoni s, yang ada malah tidak sedikit keluarga yang masih yang kandas di tengah jalan dengan di usia yang relatif masih muda.



Adanya banyak keluarga yang kandas di tengah jalan dengan usia yang relatif dini, salah satu faktor penyebabnya yaitu ketidak sinkronan atau ketidak samaan visi misi antara kedua pasangan dalam menjalani bahtera rumah tangga. Dan serta dari kedua pasangan tersebut saling bersekukuh dengan prinsip yang menjadi egonya tanpa ada yang mau mengalah, seperti hal kaum wanita di sebabkan sudah dapat mampu mendapatkan penghasilan sendiri sehingga cenderung menganggap remeh kaum laki laki, sementara untuk kaum laki laki karena beranggapan menjadi sosok pemimpin keluarga juga sering bersikap menang sendiri serba mengatur kurang menghargai kaum wanita yang menjadi pasangannya. Padahal dalam sebuah keluarga yang sejati pada hakekatnya tidak mengenal adanya pemimpin dan di pimpin yang ada adalah saling mengerti, saling mengalah serta lebih menekan terhadap perilaku dari masing masing pasangan tersebut.

Sehingga menjadi kunci kelanggengan dalam membina keluarga sebaiknya harus menghindari adanya sikap atau prinsip pemimpin dan di pimpin dan di ganti dengan istilah pengayom Terlebih banyak di terapkan atau di pahami di yakini kaum pria. Maka dari itulah khusus bagi kaum Adam dalam hal ini bagi para Pria selaku kepala rumah tangga agar memperoleh keluarga yang harmonis ayem dan tenteram, alangkah lebih bijak untuk menerapkan atau berprinsip untuk mengganti konsep berpikir dari menjadi seorang pemimpin beralih ke konsep pengayom dalam sebuah keluarga. Adapun adanya konsep berpikir menjadi seorang kepala rumah tangga yang seorang pengayom di antaranya adalah :

A. Mengedepankan pendekatan perilaku atau Tingkah terhadap keluarga.

Dalam menerapkan konsep berpikir menjadi pengayom keluarga dan tidak menekankan konsep seorang pemimpin salah satu tipsnya adalah lebih mengendapkan tingkah laku yang Arif, lembut dan bijaksana di bandingkan dengan metode banyak bicara atau berkata dalam keseharian mengarungi bahtera rumah tangga. 

B. Selalu berpikir positif atau berprangsa baik terhadap semua yang terdapat di alam semesta.

Dari seorang yang memiliki sifat pengayom, panuntun dan pamomong terhadap keluarga adalah di dalam jiwanya selalu positif serta berprasangka baik tidak hanya terhadap keluarga melainkan terhadap semua yang terdapat di alam semesta yang berisi banyak sekali dan beragam keaneka hayati di dalamnya.

C. Memahami dan mengerti posisi, hak dan kewajiban dalam membina keluarga.

Menjadi tanda dan ciri dari seorang kepala rumah tangga berjiwa pengayom adalah dia paham posisi menjadi seorang kepala rumah tangga yaitu berkewajiban memberikan nafkah lahi batin sedang untuk posisi seorang istri untuk ngrumat atau menjaga baik dalam keluarga, tidak malah kebalik posisinya sehingga tercipta keselarasan, keharmonisan keluarga.

D. Mengabaikan atau tidak menomor satukan hal hal bersifat materlistik.

Pada jiwa seorang yang bersifat pengayom, lebih menfokuskan atau memprioritaskan hal hal yang mengarah ke hidupkan akherat dan mengabaikan yang menyangkut materi keduniaan akan tetapi bukan berarti dia seorang pemalas namun hal hal materi keduniaan di ambil hanya secukupnya saja. Sebagai contoh dalam bekerja mencari nafkah dia paham kapan dia bekerja, dia istrihat, kapan dia bersama keluarga dengan begitu hidupnya selalu adem, ayem, rileks tanpa beban hidup.

Demikian dari kami atas kekurangan mohon maaf dan anggap angin lalu.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel